Saturday, June 03, 2006

Bila aku mati

Bila aku mati, apa yang akan aku beri dan tinggalkan untuk dunia ini apakah hanya kerusakan dan kehancuran? Sungguh aku tidak ingin demikian. wahai kerabat-kerabatku, ayah, ibu, adik-adikku, teman-temanku, mulai dari sd sampai sekarang. kalian telah mengukir sebuah lukisan dengan warna-warna yang beragam, hitam, putih, merah, hijau, tangisan, senyuman, marah, ah semuanya begitu terkenang malam ini. masa lalu di smp bersama beberapa temen dengan gerombolan yang khas dengan urak-urakan dan slenge'an. anak-anak nakal di smp dengan prestasi pas-pasan. aku selalu ingin kembali bersama
kalian lagi, meskipun persahabatan yang kita bina sedikit tercoreng dengan cintaku diantara kalian, ya yang dulu aku namakan itu cinta, dan sekarang malah hanya perasaan saja. untung saja kau tolak aku untuk menjalin hal itu. pasti bakal malah hancur dunia ini jika keadaan itu terwujudkan. organisasi-organisasi smp yang mulai agak membuat aku sombong, prestasi ekskul yang dengan bangganya aku ikuti dengan berbagai macamnya, voli, pramuka, basket, bahkan aku di luar sekolah pun tiap hari maen bola di kampung. lalu aku mengingat yang namanya kebrutalan yang telah terjadi saat itu, betapa nakalnya aku yang menggoda temen-temen perempuan, dan parahnya lagi aku tidak sendirian, yah bisa dibilang bersama temen-temenku aku itu sangat brutal dalam hal menggoda perempuan di kelas, yang walaupun kelihatannya bagi mereka itu, maksudku perempuan-perempuan itu hanyalah sebuah gurauan juga, namun aku tetap merasa bersalah dengan segala macam kelakuanku yang tidak baik itu. dengan statusku di dewan pramuka, di osis sekolah, di kegiatan olahragaku, di segerombolan kawanan yang suka membangkang, hah bener-bener itu saat yang penuh dengan kebersamaan, meskipun di saat itu aku pun belum merasa ada di dalam kawanan anak itu dalam arti sebenarnya. di keluargaku, aku kadang bahkan sering pula aku membantah segala macam nasehat orang tuaku, dengan berkilah ini dan itu, bahkan dengan sangat keras aku bilang bahwa ini dan itu adalah tidak dan iya, aku menyesal melakukan itu semua,
sungguh aku menyesal. entah dengan cara yang bagaimana orang tuaku berkorban dengan segala macam harta dan jiwa raganya untuk membesarkanku hingga saat ini, aku tak pernah bisa membayangkan itu semua. kakek nenekku dari ibu, kakek nenekku dari bapak, kalian semua begitu sayang pada diriku. aku merasa kalian selalu menganggapku adalah orang yang sukses di kemudian hari dan dapat mengharumkan nama keluarga ini. ya memang aku pun juga menginginkan hal demikian. ada juga status yang mengatakan bahwa keluarga kami adalah keturunan seorang sunan drajat yang begitu tersohor itu. namun itu pun hanyalah sebuah keturunan, tak ada jaminan bahwa aku akan menjadi pula seorang yang tersohor dan dipandang oleh bangsa ini. bangsa yang sangat aku banggakan ini, sungguh aku pun ingin mencintaimu lebih dalam lagi. oya sampai lupa aku dengan kawanan sd-sd ku yang begitu penuh dengan permainan. rasa jengkel karena kalah ejek dengan lawan tanding maen kelereng, kalah ejek karena tidak memiliki barang mainan seperti temenku, ha ha ha, ingin tertawa rasanya kalau mengingat hal-hal itu, hal yang sekarang aku pikir saat ini hal yang demikian itu seharusnya
tidak perlu aku lakukan. mengingat guru-guruku yang begitu setia dengan anak-anak didiknya, yang sampai kami mendengar sebuah persaingan antara beberapa guru kami. ah sudah lupakan sajalah hal yang buruk itu, aku tidak ingin membicarakan lebih dalam lagi. yang aku ingat adalah ketika belajar di bu kis, sering kami diajak berkeliling dengan mobilnya beserta keluarganya, beli pisang molen, mmm, aku dibawakan sebuah bungkusan ketika pulang, ah terima kasih ibu, lalu di rumah ibu guru yang lain, di bawah hujan, aku tampak overacting lalu ditegur oleh beliau, ah jadi malu aku bu,
padahal di sana ada begitu banyak teman. di belakang rumah andrian dan adit kami bermain di sebuah pohon, keres kalau nama jawanya, aku gak tau nama indonesianya. betapa menyenangkannya. saat ini aku sangat rindu sekali dengan kalian, di bandung ini, rasanya memang ingin sekali mengulang kebersamaan yang pernah ada dulu, aku rindu dengan orang tuaku, adik-adikku, kerabat-kerabatku di kampung, aku disini sering sekali membenci sesuatu, mereka tidak mengerti apa yang aku inginkan, atau aku yang sok tau apa yang seharusnya terjadi pada suatu hal. sehingga aku merasa kurang cocok dengan keadaan ini, aku pun merasa bahwa aku semakin dewasa, sehingga bila aku menemukan sesuatu yang salah aku pun langsung memvonisnya bahwa itu salah. (bersambung entah kapan .....)

1 comment:

Anonymous said...

That's a great story. Waiting for more. » » »